Brand VS Harga! Mana Yang Terbaik Bagi Konsumen?

Brand atau harga? Kira-kira mana sih yang paling efektif untuk konsumen dan target pasar kamu? Ini dia strategi meningkatkan nilai brand.5 min


Buat kamu yang seorang pengusaha dan sedang mendagangkan atau menjual brand milik kamu sendiri, mungkin kamu perlu mengetahui sedikit tentang perilaku konsumen dalam memandang sebuah brand.

Brand adalah identitas dari produk atau jasa yang dijual oleh sebuah perusahaan, atau lebih tepatnya adalah merek dagang. Contoh dari sebuah brand adalah iPhone. iPhone adalah sebuah brand dari Apple, atau merek dagang milik Apple.

Contoh lainnya bisa dilihat dari perusahaan lokal, saya ambil contoh ZOYA. Nama ZOYA sebenarnya adalah merek dagang, bukan nama perusahaan. Perusahaan yang memiliki hak atas merek dagang ZOYA adalah PT. Shafco Multi Trading.

Lalu, sebenarnya apa sih manfaat dari brand? Dan apa tujuannya sebuah sebuah perusahaan memiliki sebuah brand?

Pada intinya, brand adalah wakil dari sebuah perusahaan. Selain berperan sebagai wakil, brand juga menjadi ikon untuk meningkatkan visibilitas sebuah merek yang dijual oleh perusahaan.

Ilustrasinya begini. Kamu tidak tahu perusahaan yang menjual dan mengoperasikan ZOYA, yang kamu tahu ZOYA menjual busana muslim. Begitu juga sebaliknya. Pihak PT. Shafco Multi Trading yang menjual dan mengoperasikan ZOYA tidak perlu konsumennya tahu kalau ZOYA adalah milik PT. Shafco Multi Trading, yang perusahaan tahu ZOYA bisa laku keras dalam perdagangan.

Brand bisa menjadi identitas yang sangat baik untuk meningkatkan penjualan dalam perdagangan. Tapi ingat, brand juga bisa membunuh bisnis kamu!

Fungsi Serupa Harga Berbeda

Apa bedanya kaos oblong tanpa merek dengan kaos oblong bermerek Ouval Research? Sementara bahan kaosnya sama, warnanya sama, harganya sama, dan sama-sama digunakan dan dipakai di badan.

Kira-kira apa perbedaannya?

Perbedaan yang sangat jelas antara keduanya adalah kecintaan konsumen terhadap merek Ouval Research.

Jika konsumen telah mencintai suatu brand atau merek dagang, berapapun harganya pasti dibeli.

Anggaplah kaos oblong tanpa mereka dijual dengan harga Rp 75.000, sementara kaos oblong merek Ouval Research dijual dengan Rp 90.000.

Dari perbedaan kedua harga di atas, konsumen yang sudah mencintai produk dari Ouval Research pasti akan memilih untuk membeli kaos oblong dari Ouval Research. Konsumen yang mencintai Ouval Research tidak akan lagi membandingkan harga, sekalipun kaos oblong tanpa merek lebih murah dibanding yang dijual oleh Ouval Research.

Tapi, kondisi di atas tidak akan berlaku bagi konsumen yang anti brand.

Sebagian besar konsumen anti brand tidak akan peduli seberapa tinggi nilai dari sebuah brand, yang mereka pedulikan adalah kualitas dan harga.

Jika kaos oblong tanpa merek harganya lebih murah dibanding kaos oblong bermerek Ouval Research, maka konsumen anti brand pasti akan memilih kaos oblong tanpa merek.

Oleh karena itu, jika kamu baru memulai menjual produk dengan brand milik kamu sendiri, pastikan kamu tahu cara menarik hati konsumen untuk mencintai brand kamu.

Faktor Selebritas dan Ketenaran

Bukan satu atau dua kali saya melihat para selebriti dan artis mendadak jadi pengusaha. Tapi, bukan satu atau dua kali juga saya melihat banyak dari mereka yang (hampir) bangkrut.

Satu-satunya hal yang perlu diketahui adalah; keteneran dari faktor selebritas atau artis tidak menentukan tingkat penjualan pada sebuah bisnis. Ini berlaku untuk bisnis apapun!

Berdagang memang bukan hal yang sulit untuk dilakukan, tapi menjual brand punya cerita yang berbeda dari berdagang.

Brand adalah identitas dan objek visual yang melekat dalam hati dan pikiran konsumen.

Ilustasi pertama seperti ini…

Ada seorang artis yang membuat restoran bakso. Disisi lain ada tukang bakso biasa yang jualannya hanya menggunakan roda.

Kira-kira mana yang lebih enak?

Jawabannya jelas, yang lebih enak adalah yang dimakan ketika kondisi benar-benar lapar. Dan potensi dipilihnya tukang bakso yang menggunakan roda lebih besar dibanding restoran milik artis apabila konsumen sedang lapar.

Lalu, ada ilustrasi kedua…

Apabila seorang konsumen ingin membawa keluarganya untuk makan balso bersama, kira-kira siapa yang dipilih konsumen?

Jawabannya jelas, konsumen akan membawa keluarganya ke restoran bakso. Pada kondisi ini, sangat kecil sekali kemungkinan konsumen memilih tukang bakso yang menggunakan roda.

Lalu, muncul ilustrasi ketiga…

Apabila artis ini memiliki saingan restoran bakso, yang mana saingan tersebut selalu memberikan penawaran menarik, selalu berkampanye melalui iklan di berbagai media, dan dikenal sangat enak baksonya… Kira-kira, kemana konsumen akan membawa keluarganya?

Jawabannya jelas, konsumen akan membawa keluarganya ke restoran bakso saingan artis. Dalam kondisi ini sangat kecil sekali persentase konsumen membawa keluarganya ke restoran bakso milik artis.

Apa yang menyebabkan restoran bakso milik artis kalah saingan dengan restoran bakso milik pesaingnya?

Faktor pertama adalah karena kurang pencitraan.

Saya tidak akan membicaran urusan harga, karena di zaman sekarang harga belum tentu menjadi faktor kebangkrutan.

Faktor kedua adalah rasanya yang kurang impressive.

Konsumen gak mau tahu siapa yang jual, yang ingin konsumen tahu rasanya harus enak.

Saya tidak akan membicarakan urusan pelayanan, karena pada praktiknya ada banyak sekali tukang bakso yang laku keras padahal pelayanannya biasa saja.

Jangan sampai brand kamu mendapatkan komentar “ini sih biasa saja…” dari mulut konsumen. Ketika komentar tersebut terucap dari mulut konsumen, itu artinya nilai brand kamu sudah benar-benar murah.

Brand Adalah Sesuatu Yang Istimewa

Ketika kamu membeli suatu barang dari merek tertentu, itu artinya kamu memiliki pandangan istimewa terhadap barang bermerek tersebut.

Pandangan istimewa ini bukan hanya dari sisi penggunaannya saja, tapi bisa juga dari sisi fungsi dan kualitas.

Contoh umum adalah sepatu. Kamu pasti sadar bahwa ada manusia yang tertarik dengan sepatu yang harganya hingga ratusan juta rupiah.

Jika harus dibandingkan dengan sepatu yang harganya ratusan ribu rupiah, kira-kira apa perbedaannya? Padahal sama-sama digunakan di kaki.

Bagi seseorang yang menggunakan sepatu hanya untuk dipakai saja, mungkin tidak akan begitu memperhatikan kelebihan dari sebuah sepatu. Tapi, bagi seseorang yang hobi mengkoleksi sepatu, atau benar-benar memperhatikan sisi-sisi tertentu dari sebuah sepatu, pasti ada perbedaan yang sangat istimewa dibanding sepatu-sepatu pada umumnya.

Yang lebih cerdik lagi adalah perusahaan yang memproduksi sepatunya. Perusahaan ini mampu membuat sebuah merek sepatu dengan harga yang sangat mahal dan berhasil menjualnya.

Jika kamu sebagai orang biasa pasti akan heran, “Memangnya ada yang mau beli sepatu dengan harga ratusan juta?”

Jangankan sepatu dengan harga ratusan juta, jam tangan yang harga satu miliar pun pasti ada yang membeli.

Selain itu, penjual sepatu ini tidak hanya menjual sepatu yang unik dari bentuk dan desainnya saja. Penjual sepatu ini bisa menciptakan sebuah sepatu yang nyaman dan istimewa ketika digunakan oleh pembelinya. Mungkin ada AC di dalamnya? Saya juga tidak tahu karena tidak pernah membeli sepatu dengan harga ratusan juta.

Tapi yang pasti, kekuatan sebuah brand tidak hanya terletak pada sudut visual saja, tapi juga kenyamanan pengguna merupakan salah satu hal yang harus diperhitungkan jika kamu ingin menjual barang dengan membawa nama brand.

Brand Perlu Kampanye dan Promosi Regular

Ini yang mungkin membuat kamu sedikit kesusahan untuk bersaing dengan brand corporate. Mari kita bahas dengan bahasa yang mudah di mengerti.

Apa kamu tahu siapa pioner makanan pizza di Indonesia?

Lalu, apa kamu tahu siapa pioner marketplace toko online di Indonesia?

Mungkin jawabannya berbeda-beda, tapi saya akan mencoba menebak.

Pioner makanan pizza ada di antara Pizza Hut dan Domino Pizza. Sementara pioner marketplace toko online ada di antara Tokopedia atau BukaLapak.

Kenapa tiap kategori jawabannya adalah kedua brand besar di atas? Karena dua brand di atas adalah salah satu brand yang sering sekali melakukan kampanye besar-besaran di media televisi, radio, cetak, hingga internet.

Ini adalah beberapa kampanye empat brand besar di atas melalui halaman Facebook.

  1. Pizza Hut Indonesia – https://www.facebook.com/pg/pizzahutindonesiaofficial/ads/
  2. Domino Pizza Indonesia – https://www.facebook.com/pg/DominosPizzaIndonesia/ads/
  3. Tokopedia – https://www.facebook.com/pg/tokopedia/ads/
  4. BukaLapak – https://www.facebook.com/pg/bukalapak/ads/

Selain berkampanye melalui Facebook, empat brand di atas juga menerapkan strategi retargeting marketing di media internet. Yang artinya, ketika kamu mengunjungi salah satu website dari empat brand di atas, kemungkinan besar kamu akan terus ditampilkan iklan lebih dari lima kali hanya setelah kamu mengunjungi salah satu website dari empat brand di atas.

Seluruh kampanye yang dilakukan oleh empat brand di atas sangat efektif dan tertarget. Tujuannya bukan hanya untuk mendapatkan penjualan semata, melainkan untuk mengikat para pengguna internet agar terus menggunakan produk dan jasa mereka dalam hal -hal tertentu.

Contoh, ketika ingin bayar listrik. Pengguna akan diikat dengan iklan dari Tokopedia atau BukaLapak yang konten iklannya bayar apa aja bisa di BukaLapak atau bayar listrik sekarang bisa lewat Tokopedia.

Dalam praktiknya, iklan pertama belum tentu membuat pengguna sadar dengan kehadiran Tokopedia atau BukaLapak. Tapi, jika iklan ditayangkan lebih dari tiga kali, atau mungkin lebih dari 10 kali, secara otomatis otak pengguna akan teringat kalau mau bayar listrik bisa dilakukan dari Tokopedia atau BukaLapak.

Lalu, apakah brand kamu bisa mengikuti strategi pemasaran seperti empat perusahaan besar di atas?

Tentu bisa, tapi biayanya sangat besar. Selain itu, penargetannya juga tidak se-enteng membuat banner kampanye untuk partai.

Memang setiap brand tidak harus menerapkan strategi di atas, tapi jika sebuah perusahaan memiliki rencana untuk memasarkan brandnya melalui internet, maka bacaan di atas bisa jadi sebuah referensi yang sedikit dan singkat untuk memulainya.

Untuk menjual brand, persaingan harga saja tidak cukup. Kamu perlu pengetahuan pemasaran dan after sales yang baik untuk meningkatkan nilai brand kamu dalam pandangan target pasar.

5/5 6 ratings

What's Your Reaction?

Sebel Sebel
0
Sebel
Pusing Pusing
0
Pusing
Sedih Sedih
0
Sedih
Kocak Kocak
0
Kocak
Terkesan! Terkesan!
0
Terkesan!
Kecewa Kecewa
0
Kecewa
Zapra Gartiast

Hay! Saya Zapra Gartiast, calon Wali Kota Bandung tahun 2025 - 2035. Mohon do'a dari kalian yang membaca 😀

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Punya tanggapan? Tinggalkan komentarx
()
x
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals