Cara Tepat Memulai Bisnis Untuk Pemula

6 min


cara memulai bisnis untuk pemula

Bagaimana cara memulai bisnis untuk pemula? Jika di antara kamu bingung dan bertanya-tanya, “bisnis apa ya yang menguntungkan?”, atau “bisnis apa ya yang balik modalnya cepat?, atau mungkin “bisnis apa ya yang bisa bikin saya kaya sampai 10 turunan?”

Apapun pertanyaannya, jawaban sederhananya akan sangat jelas, yaitu bisnis yang dikerjakan bukan dipertanyakan.

Sekarang saya yang ingin balik bertanya, kira-kira bisnis apa yang tidak memiliki potensi di zaman milenial seperti sekarang?

Jika kamu mampu menjawab pertanyaan di atas, coba jadikan jawaban tersebut sebagai ide bisnis yang terkonsep dan terencana agar menjadi bisnis yang besar.

“Tapi saya pemula, saya tidak memiliki pengalaman bisnis…”

Apa kamu pikir Almarhum Bob Sadino adalah orang yang memiliki pengalaman bisnis?

Berhenti menganggap diri kamu sebagai pemula dalam bisnis.

Kalau kamu sudah memutuskan pilihan untuk menjadi seorang pebisnis, buat sebuah usaha. Tentukan produk untuk usaha kamu, gunakan otak untuk memberi nama usaha kamu, lalu laksanakan tugas kamu sebagai seorang marketing yang mewakili perusahaan kamu.

“Hmm… Teori itu mudah, tapi praktiknya?”

Itu yang akan saya bahas sekarang…

Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas cara yang umum. Tapi, saya akan mencoba memacu mental dan adrenalin kamu yang masih bimbang dalam menentukan keputusan yang tepat untuk memulai bisnis.

Memahami Dinamika Perjalanan Bisnis

Ketika kamu menjalani bisnis, kamu akan menghadapi keadaan keuangan yang selalu berubah di setiap waktu. Bukan hanya keuangan saja yang berubah, tapi pembeli dan pelanggan kamu juga akan berubah.

Jenis perubahan yang akan kamu hadapi dibagi dalam dua hal. Pertama, perubahan yang meningkatkan nilai bisnis kamu, dan yang kedua, perubahan yang menurunkan nilai bisnis kamu.

Contoh dari perubahan yang meningkatkan nilai bisnis kamu adalah kenaikan persentase penjualan, tingginya loyalitas pelanggan, dan pandangan baik dari karyawan atau masyarakat terhadap usaha kamu.

Sebaliknya, perubahan yang menurunkan nilai bisnis kamu adalah turunnya persentase penjualan, kurangnya loyalitas pelanggan, dan pandangan kurang baik dari karyawan atau masyarakat terhadap usaha kamu.

Ketika kamu sudah mantap menjadi seorang pebisnis, kamu harus bisa menghadapi resiko perubahan tersebut setiap saat.

“Bagaimana cara menghadapi resiko perubahan terhadap bisnis?”

Itu dia, bagaimana cara menghadapi setiap resiko dalam bisnis? Simak penjelasannya di bawah ini.

Pertama, Manajemen (Pengelolaan) Keuangan

Kamu pasti pernah mendengar (membaca) kata-kata berikut…

Roda itu berputar. Kadang di atas, kadang di bawah

Dari kata-kata di atas, kamu harus sadar bahwa kamu tidak akan pernah tahu kapan kamu akan bangkrut.

Ketika kamu benar-benar serius menjalani bisnis, kamu pasti akan merasakan posisi yang baik dan ideal dalam segi keuangan. Posisi ini adalah pemicu kebangkrutan terbesar jika kamu tidak bisa mengelolanya dengan baik.

Simpan keuntungan kamu, atau investasikan keuntungan kamu untuk keperluan bisnis kamu di masa yang akan datang. Urungkan keingingan kamu untuk membeli barang yang hanya menjadi kebanggaan untuk diri kamu sendiri.

Ketika kamu menjadi seorang pebisnis, kamu akan membagi kepentingan antara kehidupan kamu dengan usaha kamu. Bahkan, kamu akan lebih condong 70% pada usaha kamu dibanding kehidupan kamu.

Sebagian pengusaha yang mulai dari nol rata-rata mengutamakan kehidupannya hanya untuk makan, sisanya ya untuk usaha.

Kedua, Persaingan Harga

Sekalipun perbedaan harga hanya 1000 rupiah, perbedaan harga tersebut bisa cukup berdampak pada penjualan kamu.

Contoh, kamu menjual sepatu dengan harga 40.000. Sementara, di toko sebelah ada sepatu yang memiliki brand dan model yang sama dan dijual dengan harga 39.000.

Dari kasus di atas kamu pasti beranggapan; apalah arti dari 1000 rupiah dalam perbandingan harga?

Ya memang tidak ada artinya. Tapi, perbedaan angka 3 dan 4 dari contoh di atas cukup baik untuk menghipnotis calon pembeli yang beranggapan bahwa angka 39.000 masih termasuk dalam bilangan tiga puluh ribu rupiah.

Maka dari itu ketika kamu menjual suatu barang jangan dulu pikirkan harganya. Tampilkan saja terlebih dahulu harga yang ideal dan tunggu sampai ada calon pembeli yang mengatakan, “wah mahal ya…”

Saat ada calon pembeli mengatakan bahwa produk atau dagangan kamu mahal, di sini kamu harus mulai melakukan riset harga dari produk sejenis.

Contoh, kamu menjual sepatu dengan harga 40.000. Tapi, ada 2 toko lain yang menjual dengan harga 39.000 dan 38.000. Di antara perbedaan kedua harga tersebut kamu bisa ambil jalan tengah untuk menentukan harga sepatu yang kamu jual, misalkan 38.500 atau 38.900. Pastikan juga harga yang kamu tetapkan tidak mengurangi keuntungan kamu secara drastis.

Jika dari 1 produk kamu mengambil keuntungan 50%, maka kamu bisa menurunkannya 1% atau 1.9% sebagai strategi persaingan harga.

Saat kamu baru memulai bisnis, kamu pasti tidak memiliki pelanggan. Maka dari itu penawaran terbaik kepada calon pembeli melalui harga adalah strategi terbaik untuk mendapatkan penjualan, dan besar kemungkinan untuk mendapatkan pelanggan.

Ketiga, Komunikasi Dengan Calon Pembeli

Ini yang paling sering luput dari kebanyakan pebisnis di negeri kita tercinta Indonesia. Kebanyakan pebisnis selalu manis di awal tapi pahit di akhir. Kejadian seperti ini sering sekali saya jumpai.

Bahkan tidak sedikit juga pebisnis yang sudah bikin perasaan pahit di awal komunikasi sebelum konsumen melakukan pembelian.

Contoh, ketika calon pembeli bertanya, “Ini bahannya apa?”, lalu dijawab dengan singkat, “Sutra.”

Contoh lainnya, “Barangnya ready gak?”, lalu hanya dijawab dengan kata, “Ready”.

Coba kamu posisikan diri sebagai calon pembeli ketika mendapatkan jawaban tersebut dari presenter produk. Apakah memuaskan?

Ingat, bisnis itu bukan sekedar keuntungan dan penjualan. Lebih dalam lagi, bisnis adalah kenyamanan komunikasi agar terjalin kesepakatan panjang dengan calon pembeli. Jika calon pembeli puas berkomunikasi dengan kamu, berapapun harganya pasti dibayar.

Sekalipun harganya tidak sesuai, calon pembeli pasti berusaha untuk melakukan negosiasi harga, dan calon pembeli tidak takut untuk blak-blakan untuk mengungkapkan kendalanya sebelum melakukan pembelian.

Biasanya, selain ketertarikan terhadap produk, calon pembeli juga akan memperhatikan cara sebuah usaha dalam komunikasi.

Tapi, hal tersebut akan berbeda ceritanya jika kamu memilih menjadi pebisnis dengan jenis one way sales. Contoh pebisnis dengan jenis ini adalah tukang pulsa, tukang nasi goreng, dan pedagang serupa yang mendapatkan pelanggan karena sudah terbiasa membeli dari pedagang yang sama atau tidak ada pedagang lain dalam suatu tempat.

Selain dari menghadapi resiko dalam dinamika bisnis, kamu juga perlu menetapkan produk yang akan kamu jual. Menetapkan produk adalah suatu hal yang sangat krusial dalam bisnis karena produk adalah sesuatu yang akan dikonsumsi atau digunakan oleh konsumen.

Menetapkan Produk Serta Pengelolaannya

Saat pertama kali kamu memulai bisnis, memilih dan menentukan produk bisa menjadi hal yang sangat sulit, bahkan masih saja ada orang yang mengurungkan niatnya untuk memulai bisnis karena tidak memiliki ide untuk menentukan dan memilih produk.

Tapi, selain dari bingung dalam memilih dan menentukan produk, ada juga yang memilih produk dari faktor potensi keuntungan.

Pastinya kamu pernah mendengar kata-kata berikut keluar dari seseorang yang bingung menentukan produk, “kira-kira kalo bisnis xxx balik modalnya cepet gak ya?”, atau ada juga yang sepert ini, “bisnis xxx punya prospek yang bagus gak ke depannya?”

Seperti yang sudah saya jelaskan di awal paragraf, setiap bisnis memiliki prospek, potensi, dan keuntungan. Kalaupun ada bisnis yang tidak memiliki prospek, potensi, dan keuntungan, maka itu adalah rasa ragu dan bimbang sebelum benar-benar memulai.

Cara Cepat Menentukan Produk

Jika kamu masih ingin meraba atau mencoba bisnis dari suatu hal yang kecil, mulailah dengan memilih produk yang berada dalam jangkauan kemampuan kamu.

Contoh, kamu baru bisa dagang ayam goreng di rumah, maka jangan dulu kamu memikirkan prosedur untuk membuat rumah makan ayam goreng besar seperit Ampera atau KFC. Bukan tidak boleh, tapi belum waktunya.

Selain itu, lakukan riset sederhana yang tidak menghabiskan waktu dan biaya.

Misalnya, kamu ingin menjual ayam goreng di rumah, maka hal pertama yang harus kamu lakukan adalah mencari tahu pedagang yang menjual produk makanan berat di wilayah kamu.

Sekiranya setiap pedagang makanan berat tersebut menyediakan menu ayam goreng, kamu beli ayam tersebut lalu uji coba rasanya dan bandingkan dengan ayam goreng yang akan kamu jual.

Dari tindakan di atas kamu bisa mengetahui seberapa baik ayam goreng kamu dibanding dengan pedagang makanan berat yang ada di wilayah kamu.

Jangan Pernah Menyempurnakan Produk

Ini yang sebanarnya sangat berbahaya bagi kamu yang ingin memulai bisnis, yaitu kesempurnaan produk.

Perlu kamu ketahui bahwa pedagang mobil kelas enterprise seperti Toyota, Daihatsu, Mazda, dan lain sebagainya, tidak pernah membuat mobil yang benar-benar sempurna dan sesuai dengan keinginan konsumennya.

Jangankan pedagang mobil, pedagang permen pun tidak pernah menyempurnakan produknya.

Coba kamu pikir, apa yang harus disempurnakan oleh pedagang permen, misalnya Relaxa?

Dari pada kamu memikirkan cara untuk menyempurnakan produk, lebih baik kamu pikirkan cara untuk menyempurnakan kemasan produk kamu supaya menarik perhatian calon pembeli.

Menyempurnakan kemasan pun tidak harus 100% sempurna, yang penting poin informasi produknya jelas.

Dari pengalaman saya pribadi, saat ini masih saja ada pengusaha yang khayalannya terlalu jauh ketika mengembangkan produk, padahal produknya belum pernah digunakan oleh konsumennya.

Kurangi rasa khawatir kamu terhadap kesempurnaan produk, karena yang menjadi poin adalah bagaimana presentasi produk kamu dapat di mengerti oleh calon pembeli dan bisa dibeli dengan mudah oleh calon pembeli.

Minta Saran Dari Pembeli

Produk kamu tidak akan pernah berkembang apabila kamu tidak meminta saran atau masukan dari pembeli. Ketika ada seorang pembeli memberi komentar terhadap produk kamu, itu artinya pembeli peduli terhadap produk kamu.

Jangan sakit hati terhadap saran negatif. Justru dengan adanya saran negatif kamu bisa tahu kelemahan produk kamu.

Yang harus kamu khawatirkan ketika mengembangkan produk adalah tidak adanya saran dari pembeli, baik itu positif atau negatif. Lebih parahnya lagi jika pembeli memberi saran negatif tersebut ke teman-temannya atau diterbitkan melalui media sosial.

Satu hal lagi yang harus kamu hindari. Jangan sampai saran negatif tentang produk kamu dijelaskan oleh media informasi publik, contoh seperti video YouTube channel! Saran negatif dari perorangan lebih penting untuk pengembangan produk ke depannya, sedangkan saran negatif dari media bisa jadi perusak citra dan nilai usaha kamu ke depannya.

Menjalani Aktifitas Marketing

Jika ada yang mengatakan bahwa keberhasilan bisnis tidak tergantung pada marketing, maka itu adalah dusta besar.

Namanya bisnis pasti perlu marketing. Sekalipun kamu hanya menjual gorengan, kamu pasti perlu sarana untuk memasarkan dagangan kamu.

Strategi pemasaran dalam bisnis itu sangat beragam. Tapi, pada intinya, jika kamu baru memulai bisnis dan belum melakukan pemasaran, maka kamu harus mengerti konsep pemasaran untuk bisnis kamu.

Dan ingat, jangan terlalu sayang duit untuk melakukan pemasaran.

Mari kembali ke tukang gorengan.

Apabila tukang gorengan menjual dagangannya hanya dengan modal keresek (tas plastik), kira-kira ada yang mau membelinya gak?

Ada, tapi kemungkinan besar tidak akan laris.

Itu sebabnya tukang gorengan menggunakan roda untuk berjualan. Dalam ilustrasi ini, roda adalah sarana (sumber daya) pemasaran, lalu jalan-jalan keliling komplek atau wilayah tertentu adalah tindakan pemasaran.

“Tapi itu kan ilustrasi dari pemasaran tukang gorengan, kalau saya jual handphone gimana?”

Cari dulu sarana pemasaran. Di zaman sekarang sarana untuk melakukan pemasaran itu sangat banyak, bahkan sarana tersebut bisa kamu gunakan dengan gratis. Contohnya sosial media, forum jual beli, BBM, WhatsApp, dan lain sebagainya.

Kalau di zaman dahulu banyak pebisnis bisa sukses tanpa menggunakan sarana pemasaran dari media internet, masa kamu yang sekarang sudah dimudahkan dalam komunikasi masih belum bisa sukses? Malu dong… hihihi…


Akhir Tulisan Cara Memulai Bisnis

Nah, karena tulisan ini sudah terlalu panjang dan mungkin bisa bikin kamu mengantuk saat membacanya, maka saya akan akhiri tulisan ini di sini.

Cara memulai bisnis untuk pemula ini ditujukan untuk kamu yang benar-benar masih bingung dan bimbang untuk memulai bisnis.

Semoga tulisan cara memulai bisnis untuk pemula ini dapat dijadikan semangat agar keputusan kamu untuk memulai bisnis lebih matang dibanding hari-hari sebelumnya.

Apabila kamu memiliki saran atau pertanyaan dengan tulisan cara memulai bisnis untuk pemula, kamu bisa meninggalkannya melalui kolom komentar yang ada di bawah ini.

5/5 9 ratings

What's Your Reaction?

Sebel Sebel
0
Sebel
Pusing Pusing
2
Pusing
Sedih Sedih
0
Sedih
Kocak Kocak
3
Kocak
Terkesan! Terkesan!
2
Terkesan!
Kecewa Kecewa
0
Kecewa
Zapra Gartiast

Hay! Saya Zapra Gartiast, calon Wali Kota Bandung tahun 2025 - 2035. Mohon do'a dari kalian yang membaca 😀

Subscribe
Notify of
guest
1 Komentar
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
1
0
Punya tanggapan? Tinggalkan komentarx
()
x
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals