Potensi Internet Sebagai Jembatan Bisnis

4 min


potensi-internet-sebagai-jembatan-bisnis

Dahulu, sekitar tahun 2008 atau 2009, saya pernah berpikir bahwa membuka usaha warnet (warung internet) adalah jenis usaha jangka panjang. Mungkin, jangka waktunya bisa bertahan hingga 20 – 25 tahun.

Namun, setelah melihat kenyataan bahwa warnet tergeser oleh industri smartphone. Di sekitar tahun 2014 saya melihat banyak pengusaha warnet yang mulai tutup.

Faktor utama yang membuat warnet tutup tak lain adalah sepi pelanggan.

Apa faktor utama yang membuat warnet jadi sepi pelanggan?

Karena akses informasi internet dapat digunakan melalui smartphone.

Sebut saja, apabila di tahun 2008 banyak masyarakat harus datang ke warnet untuk bersosialisasi di website Facebook, maka hal itu akan jarang sekali terjadi di zaman sekarang.

Karena di zaman sekarang ini, atau bisa juga disebut dengan zaman transformasi digital, hampir setiap hal dilakukan melalui digital yang medianya adalah laptop atau smartphone.

Peluang dan Kesempatan

Melihat peluang kesuksesan yang begitu tinggi dalam transformasi digital (internet), banyak pihak memanfaatkan kesempatan tersebut untuk banyak kepentingan.

Sebut saja pedagang baju yang memiliki toko dipinggiran kota sebagai contoh.

Mungkin, sebelum ada internet, pedagang baju tersebut harus mempertimbangkan banyak hal untuk melakukan pemasaran, apalagi jika mengingat biayanya yang sangat besar dan prosesnya yang rumit. Jaga toko saja sudah lelah, apalagi jika harus direpotkan oleh urusan pemasaran… Makin lelah… 😥

Bagi pedagang, pemasaran adalah sebuah dilema, khususnya bagi pedagang yang tidak memiliki pengetahuan tentang target pasar dan goal atas aktifitas pemasaran yang dilakukannya.

Bagi mereka, lebih baik diam di toko dan menunggu pembeli datang dari pada melakukan aktifitas pemasaran.

Namun, setelah ada internet. Pedagang baju tersebut mampu memasarkan dagangannya melalui Facebook Ads dan memanfaatkan toko online sebagai media untuk komunikasi, promosi, presentasi dan transaksi.

Walaupun pedagang tersebut minim pengetahuan tentang penargetan pasar, hal tersebut bukan lagi sebuah hambatan karena Facebook Ads menyediakan alat yang memberi wawasan kepada pedagang untuk mendapatkan penargetan yang lebih spesifik.

Internet mampu mengurangi biaya pemasaran hingga 80% untuk menjangkau seluruh masyarakat yang ada di nusantara.

– Zapra Gartiast

Kendala dan Hambatan

Namun, di balik kemudahan internet dan transformasi digital, tak sedikit juga pihak yang merasa enggan untuk memanfaatkan internet sebagai perubahan, khususnya bagi pelaku bisnis.

Kebanyakan pelaku bisnis beralasan bahwa pemanfaatan sumber daya teknologi informasi dalam internet untuk bisnis adalah pemborosan uang. Mengapa bisa ada anggapan seperti itu? Mari ketahui alasannya.

Mahalnya Pembuatan Sumber Daya Teknologi Informasi

Pembuatan sumber daya teknologi informasi bisa dalam bentuk perangkat lunak (software), aplikasi mobile (mobile applications), dan website.

Namun, apakah benar dibalik mahalnya pembuatan sumber daya teknologi informasi dapat memperburuk keadaan bisnis, khususnya keuangan?

Membuat sumber daya teknologi informasi memang cukup mahal, namun harga pembuatan sumber daya teknologi informasi cukup relatif.

Apa maksud dari cukup relatif?

Maksudnya, harga untuk membuat sumber daya teknologi informasi ada yang relatif murah, ada yang relatif mahal, dan ada juga yang relatif gratis.

Mari ambil contoh pembuatan website toko online.

Mungkin ada beberapa pedagang yang enggan untuk memiliki website toko online karena harga pembuatannya yang mahal.

Selain dari harga pembuatannya yang mahal, untuk mengelolanya juga ribet.

Karena harga pembuatannya yang cukup mahal dan teknis pengelolaan yang ribet, solusinya buat toko online di Instagram, BBM, WhatsApp, atau LINE.

Setelah bikin akun di sosial media, pedagang ini mencoba mencari cara untuk meningkatkan penjualan dengan cara SPAMMING.

Dalam kacamata pribadi saya, berjualan di Instagram dengan menggunakan metode direct selling adalah sebuah kesalahan terbesar bagi pedagang.

Dari sudut ekonomi memang MURAH. Bikin akun di Instagram itu gratis, promosinya juga lebih terjangkau dibanding harus membuat website. Tapi, pemanfaatan medianya kurang tepat.

Ilustrasi dan Contoh…

Sebagai contoh, mari bandingkan 2 akun Instagram yang sama-sama berjualan di bawah ini:

instagram-comparation

Kira-kira, mana yang lebih nikmat dipandang oleh mata? Apakah akun Instagram @macbethfootwear atau @koyuhijab_official?

Selain itu, coba kalian lihat komentar dan likes beberapa foto dari kedua akun Instagram di atas. Kira-kira, mana yang lebih banyak diberikan komentar dan likes?

“Macbeth itu kan brand besar. Ya wajar kalau foto-fotonya lebih menarik perhatian dan sosialisasi mereka di media sosial lebih baik…”

Tepat, tapi satu-satunya hal yang membuat Macbeth lebih sosial bukan karena Macbeth adalah brand besar. Melainkan, Macbeth mampu menempatkan posisi brand mereka dengan baik dan benar di media sosial Instagram.

Macbeth sadar bahwa Instagram adalah tempat untuk bersosial, bukan untuk berdagang.

Tempat mereka berdagang melalui website, atau media lain yang memang fokus digunakan untuk melakukan perdagangan.

Selain dari itu, Macbeth juga tidak segan menampilkan foto-foto yang menarik perhatian pelanggannya untuk berkomentar dan memberikan likes pada aktifitas mereka di Instagram.

Padahal, jika melihat foto-foto yang dibagikan oleh Macbeth, proses pengambilan foto, lalu proses editing, sampai proses posting di Instagram pasti memakan waktu yang tidak sebentar.

Lalu, mengapa Macbeth rela melakukan proses tersebut?

Karena mereka menjaga loyalitas followers agar tetap up to date terhadap pembaharuan yang diterbitkan oleh Macbeth.

Macbeth memilih untuk mempertahankan pelanggan lama dibanding harus mencari pelanggan baru yang mungkin menurut mereka adalah pemborosan untuk aktifitas marketing.

Kesimpulan

Pada intinya, mahal atau murahnya pembuatan sumber daya teknologi informasi, baik itu website, aplikasi mobile, atau aplikasi desktop, semua kembali pada kebutuhan dan tujuan dari pembuatan.

Namun, dibalik kebutuhan dan tujuan, Anda juga harus memahami dan mengerti pengelolaan sumber daya teknologi informasi yang Anda buat.

Menerapkan sumber daya teknologi informasi saja tidak cukup untuk menjembatani bisnis dengan internet. Sekalipun sumber daya teknologi informasi yang Anda gunakan adalah gratis, namun hal tersebut tidak membuat Anda semakin baik apabila tidak memahami cara mengelolanya dengan benar.

Mahalnya Pengelolaan Sumber Daya Teknologi Informasi

Apa Anda pernah melihat jasa yang menawarkan untuk mengelola akun sosial media Anda? Atau, apa Anda pernah melihat jasa yang menawarkan untuk mengelola website?

Kenapa harus dikelola?

Suatu hari saya pernah membaca kutipan yang cukup menarik.

Pengelolaan adalah proses yang bisa jadi lebih rumit dibanding dengan pembuatan…

Dalam sumber daya teknologi informasi, pengelolaan memang lebih rumit. Maksud dari rumit di sini bukan hanya urusan teknis saja. Tapi, ada juga suatu pengelolaan yang disebut dengan pengelolaan produk.

Maka tak aneh bilang di negara maju seperti Amerika Serikat, seorang pelaku bisnis berani mengeluarkan hingga $2,500 per bulan (Rp. 33.800.000) untuk pengelolaan teknis dalam website.

Apabila Anda mengenal alat untuk mengelola akun media sosial seperti Buffer, Hootsuite, dan Sprout Social, Anda akan lebih heran melihat biaya langganannya yang mahal, hingga $499 per bulan (Rp. 6.750.000).

Padahal, yang Anda bayar hanya sebuah alat, bukan menyewa pakar media sosial untuk mengelola akun sosial media Anda secara penuh.

Mengapa mengelola bisa lebih mahal? Mari ketahui alasannya.

Ilustrasi dan Contoh…

Sebut saja Anda membuat situs jejaring sosial yang sangat mirip dengan Facebook. Di dalamnya terdapat fitur untuk berbagi foto, video, status, dan chatting.

Selama 1 tahun berjalan, situs jejaring sosial Anda tidak ada masalah, pengguna tetap nyaman menggunakan situs Anda dan Anda beranggapan semua proses dalam keadaan yang baik.

Tiba-tiba di tahun ke 3, muncul situs jejaring sosial baru yang membuat pengguna Anda meninggalkan situs jejaring sosial Anda.

Menghadapi keadaan tersebut, kira-kira apa yang akan Anda lakukan?

Tentu Anda akan mengambil tindakan. Anda akan melakukan penelitian dan perencanaan baru agar pengguna kembali menggunakan situs jejaring sosial Anda.

Anda juga pasti menyusun struktur pengelolaan baru agar situs jejaring sosial Anda lebih efektif di masa yang akan datang. Mulai dari fitur, tampilan, hingga pemasaran untuk menunjukan bahwa situs jejaring sosial Anda sudah lebih baik.

Dengan adanya struktur pengelolaan baru, akan ada biaya baru yang perlu dibelanjakan oleh Anda, dan pasti akan lebih mahal dibanding dengan sebelumnya. 🙂

Kesimpulan

Tinggi atau rendahnya biaya pengelolaan untuk sumber daya teknologi informasi Anda tergantung dari kebutuhan Anda pribadi.

Contoh dan ilustrasi di atas hanya sebuah referensi agar Anda mengetahui biaya maksimal yang dikeluarkan oleh sebagian besar perusahaan dalam mengelola sumber daya teknologi informasi.

Namun, apabila Anda adalah seorang pengusaha kecil menengah, atau badan usaha startup, kemungkinan besar biaya pengelolaan akan lebih rendah.


Tulisan dalam artikel ini mungkin tidak mereferensikan jenis dari jembatan yang dapat dilakukan oleh bisnis melalui internet. Menurut cara pandang saya pribadi, jenis dari jembatan tersebut dapat Anda telusuri lebih lanjut, khususnya potensi-potensi yang banyak dibagikan oleh bloggers di Indonesia.

0/50 ratings

What's Your Reaction?

Sebel Sebel
0
Sebel
Pusing Pusing
0
Pusing
Sedih Sedih
0
Sedih
Kocak Kocak
0
Kocak
Terkesan! Terkesan!
0
Terkesan!
Kecewa Kecewa
0
Kecewa
Zapra Gartiast

Perkenalkan, nama saya adalah Zapra Gartiast dan saya salah satu penulis di website Yuniza. Telah berpengalaman dalam internet dan pengembangan website sejak tahun 2009. Bukan ahli teknologi, namun tertarik dengan berbagai hal menarik dalam teknologi.

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals